THE GREEN EYES
CHAPTER
1
BLOODY
FLOOR
Suara-suara
orang semakin bertambah, sepertinya ada lebih dari 5 orang. dan Nenekku
menghadapi semua itu sendirian? Terdengar suara tembakan, dilanjutkan dengan
suara-suara langkah kaki orang-orang itu. Mereka meninggalkan Nenekku seorang
diri di lantai yang dingin dan dipenuhi oleh darahnya.
***
Tokyo,
22 September
Aku melangkah
menyusuri koridor sekolah baruku ini. Di sebelahku ada seorang guru wanita yang
sibuk berbicara ini itu. Aku tak begitu menangkap apa yang sedang
dibicarakannya, tapi aku hanya tersenyum dan mengangguk-angguk mendengar
penjelasannya. Pikirku, aku tidak boleh dibenci oleh guru karena kesan yang
jelek pada saat pertama.
Kami sampai di depan kelas yang akan
kutempati. Kelas 2-1. Letaknya dekat dengan tangga. Lumayan, bisa segera pulang
jika bel tiba. Aku dipersilakan masuk oleh guru, dan seperti ‘urutan acara’
untuk murid baru, tentu saja aku akan memperkenalkan diriku ini di depan kelas.
“Perkenalkan, nama saya Kunisawa
Mashiro, pindah sekolah karena jarak sekolah yang lebih dekat dari rumah yang
baru saya tempati. Mohon bantuannya”.
Hanya
itu. Aku tidak ingin terlalu terbuka soal masalah pribadiku. Dan sungguh, aku
berharap segera diperbolehkan duduk karena aku capek berdiri sambil membawa tas
yang berat! Syukurlah, Guru itu langsung menyuruhku duduk di kursi kosong untuk
meneruskan pelajaran. Aku duduk di pojok. Yah, tak masalah. Malah aku bisa
leluasa melihat pemandangan di balik jendela.
Kubuka buku pelajaranku, ternyata ini
pelajaran matematika! Sungguh, aku sedang tidak mood untuk berpikir. Saat
itulah teman sebangkuku menyapaku.
“Hai, salam kenal. Namaku Izumikawa
Madoka, panggil saja Madoka. Aku boleh memanggilmu Mashiro?”, sapanya sambil
mengulurkan tangan.
Aku
menyambut uluran tangannya, “Boleh. Mohon bantuannya, Madoka-chan”, jawabku
sambil tersenyum manis. Kami melanjutkan pelajaran.
Saat jam istirahat tiba. Setelah
Sensei Gan pergi, anak-anak perempuan mengerubungi mejaku. Apalagi kalau bukan
untuk perkenalan. Mereka juga memberiku pertanyaan-pertanyaan tentangku,
sungguh tidak menyenangkan. Tapi, satu pertanyaan yang membuatku jengkel
setengah mati adalah mengenai warna bola
mataku. Bola mataku berwarna hijau cerah, dipadukan dengan badanku yang
tinggi dan berambut coklat pirang sebahu (lebih sedikit) selalu dicurigai
orang. Apa itu asli? Apa warna hijau itu karena lensa kontak? Apa rambutmu
dicat?
Akhirnya, saat yang kutunggu-tunggu
tiba. Jam makan siang! Perutku sudah berbunyi dari tadi. Madoka-chan,
Mizuki-chan, dan Mari-chan menemaniku ( lebih tepatnya, ngikut ) menuju kantin,
karena aku tidak tahu tempatnya.
Sesampainya
di kantin, kami langsung menuju meja antrian. Mungkin karena aku murid baru,
aku dipersilakan untuk berada di depan mereka. Aku tak menolak karena
antriannya sangat panjang. Sebenarnya aku kasihan,tapi, toh mereka yang
nawarin, kan?
Setelah
mendapat makanan, kami menuju meja yang masih kosong. Di sini, lagi-lagi aku
mendapat pertanyaan soal mataku. Tabahlah Mashiro!
“Matamu
aneh ya, warnanya hijau. Langka, ya”, tanya Mizuki.
APA?? KAU PINGIN DIHAJAR YA?
Batinku. Tapi aku masih bisa tersenyum.
“Iya,
kayak bukan orang Jepang, ya?”, sambung Mari-chan. Yang ini masih bisa
ditolerir.
“Sudah,
nggak usah bahas itu, nanti makanannya keburu dingin”, sela Madoka. Oh, thanks,
Madoka!
“Lagian
sepertinya Mashiro-chan cocok dengan mata itu. Terkesan seperti golongan elit”,
sambung Madoka lagi. Aku tersedak. Bagaimana bisa? Apa itu terpancar dari
wajahku?
“Ah,
biasa saja. Mata ‘kan hanya sebagai alat penglihat. Lagipula, orang yang elit
tidak dilihat dari matanya, kan?”, jawabku setelah minum air. Tapi itu tak
berarti karena tak lama kemudian aku tersedak lagi oleh teriakan dari
belakangku.
“OOIIII!
MAU SAMPAI KAPAN MAKANNYA? YANG MAU MAKAN BUKAN CUMA KAMU AJA!”.
Aku
hampir menoleh. Siap berdiri, tetapi urung melihat wajah teman-temanku yang
terpaku melihat sosok di belakangku. “Kaicho...”, desah mereka bersamaan. Bukan
hanya mereka bertiga, para siswi cewek juga memandang ke arah kami dan
ikut-ikutan mendesah juga. Aku heran kenapa mereka bisa sekompak itu.
Akhirnya
aku menoleh juga. Di belakang kami ada sesosok lelaki yang tinggi dan seorang wanita yang kelihatannya berteriak tadi. Berbeda
dengan murid laki-laki lain, dia berseragam lengkap dan dengan tatanan rambut
yang kujamin disiapkan untuk menaklukkan para siswi perempuan di sini. Dan yang
membuatku lebih heran lagi dia menatapku dengan wajah yang dingin. Bahkan
saking dinginnya, kau bisa meletakkan es krim yang hampir mencair di depannya
dan es krim itu akan membeku menjadi es.
“Maaf
kaicho, kami keasyikan ngobrol. Kami akan segera menghabiskan makanan kami”,
ujar Mizuki yang masih terpesona padanya. Aku semakin heran. Kenapa pria dingin
seperti ini bisa populer, ya?
Pria
itu mengalihkan pandangannya ke arah Mizuki dan...... TERSENYUM?????? Bahkan
senyumnya itu seakan dia satu-satunya manusia yang tak berdosa di bumi ini.
“Ah,
tidak apa-apa, Azama. Makannya pelan-pelan saja. Asal jangan keasyikan ngobrol
sampai lupa waktu. Ingat, sebagian besar meja kantin sedang diperbaiki, jadi
banyak anak yang harus mengantri baru bisa makan. Paham?” Astaga! Cowok ini
pintar ngomong!
“Baik,
Kaicho....”, jawab ketiga temanku bersamaan mengantar kepergiannya.
Karena
masih terpaku pada cowok itu, aku menyadarkan mereka bertiga. Bagaimana
caranya?
BRUAK!
Berhasil!
Mereka kaget! Mata mereka hampir keluar dan Mari-chan latah.
“Uwaa...”
teriak mereka bersamaan. Bukan hanya itu saja, anak-anak perempuan yang mejanya
berdekatan dengan kami juga ikut-ikutan kaget. Detik itu juga, aku ingin
tertawa sekeras-kerasnya. Tapi mengingat wibawaku, aku berusaha tertawa kecil.
“Hihihi...
Kalian lucu”, ujarku sambil berusaha mengecilkan volume tawaku hingga seimut
mungkin. Mereka cemberut.
“Huh,
Mashiro! Kenapa, sih?” ujar Mizuki yang sedikit tersipu.
“Iya,
kita kan masih mau ‘cuci mata’!” kali ini Mari yang protes.
“Hihihi,
maaf, maaf. Habis kalian bengong begitu! Kalau tadi ada lalat masuk gimana?
Kalian pasti nggak jadi makan, kan?” ujarku.
Mereka
duduk dan masih dengan wajah cemberut. Mizuki melirikku. Aku tahu, jadi
kutanya.
“Ada
apa?”
“Mashiro-chan...”
ujarnya setengah berbisik. “Nggak tertarik sama anak cowok, ya?”
GUBRAK
“Maksudmu?”
tanyaku sambil berusaha menenangkan nada bicaraku.
“Maksudku,
kulihat sepertinya tadi kau tidak begitu suka melihat wajah Kaicho.” terang
Mizuki.
Eh?
Tidak tertarik? Apa itu yang tersirat di wajahku?
“Apa
iya?” ujarku tak yakin.
“Benar!
Lagipula sekilas tadi aku merasa ada petir yang menyambar di antara kalian
berdua!”
Aku
ngeri. Apa sebagai cewek aku masih normal?
***
New york, 22
September
Aku
mulai menyalakan laptop-ku. Oh, sialan! Lelet banget, sih! Yah, apa boleh buat,
di laptop ini banyak sekali data-data-ku. Aku tak mungkin menghapusnya karena
semua data-data itu penting. Setelah laptop berjalan....? Eh, maksudku nyala,
aku mulai mengklik icon-icon yang menuju file-ku, dan mulai mengerjakan
laporanku. Membosankan sekali, tapi juga penting. Sebab, nyawa banyak orang
dipertaruhkan di file ini. Beruntunglah aku, hari ini hari kerja, jadi tak
banyak orang yang berseliweran di kompleks ini. Biasanya, ditengah pekerjaanku,
banyak orang yang menyapaku kalau lewat di depan rumahku. Agar tidak dicap
sebagai warga yang tidak sopan, aku terpaksa membalas sapaan mereka dan
menghentikan pekerjaaanku sementara untuk sekedar berbasa-basi dengan mereka.
Boleh saja jika mereka membicarakan tentang topik yang berbeda, tetapi yang
mereka katakan selalu sama! Entah itu masalah cuaca, apa yang sedang aku
lakukan, dan menanyakan apa rencanaku untuk hari ini. Bahkan, untuk para
ibu-ibu, aku harus mempersilakan mereka masuk ke rumah dan menjamu mereka! Dan
mereka selalu menanyakan hal yang sama : kapan aku menikah? Bukankah itu
masalah pribadi? Untuk apa mereka ikut campur urusan percintaanku?
Kembali
pada laporanku, sudah satu jam aku duduk di depan laptopku. Tidak ada yang
mengganggu. Suasana sepi dan tenang. Aku bisa mengerjakan laporanku dengan
tenang. Ahh.. Akhirnya selesai. Aku menggeser arah mouse ke icon ‘close’. Belum
sempat aku menyentuh tombol itu, teleponku berdering yang membuatku kaget
setengah mati, padahal aku sudah terlena dengan kehidupan tenang di sini. Aku mengangkat
ponselku. Oh, dari Miss Annie, atasanku. Aku menekan tombol jawab dan terdengar
teriakan di sana.
“
AKIRA! MAU SAMPAI KAPAN KAU MAU MENGABAIKANKU? AKU SUDAH MENGIRIMIMU BANYAK
E-MAIL, LHO! ”, aku sudah akan mematikan ponselku ketika dia mengatakan
sesuatu. “Mr. Carl sedang menuju ke rumahmu! Dia mau mengambil obat hasil uji
cobamu kemarin dulu!”. Aku benar-benar mematikan ponselku kali ini. Aku melihat
ke layar ponselku dan melihat ada 24 e-mail. Semua dari Bu Annie. Isinya semua
sama, tentang kedatangan Mr. Carl. Mr. Carl adalah bosku. Aku segera menutup
laptopku dan segera turun dari lantai 2. Secepat kilat kubersihkan meja tamu
yang masih bersih, menyiapkan hidangan, mandi, dan berpakaian rapi. Setelah
semua siap, kulihat ponselku. ada 5 missed call dari Bu Annie. Segera kutelepon
balik Bu Annie. Lagi-lagi ada teriakan dari sana. Aku sudah menjauhkan
telingaku dari ponselku sebelum dia menjawabnya. Seperti yang kuduga, teriakan
itu ditujukan hanya untukku.
“AAAKIIIIIIRRRAAAA....!
Harus berapa kali aku meneleponmu? Jangan memutuskan telepon ketika orang
lag...”
“Ada
apa?”, tanyaku menyela. Aku sudah bosan mendengar omelannya, “Oya. Jam berapa
Mr. Carl datang? Sudah kutunggu dari tadikok belum datang?”. Terdengar helaan
nafas dari seberang sana.
“Makanya,
kalau orang belum selesai ngomong, jangan sembarangan diputusin! Mr. Carl tadi
telepon, dia tidak jadi datang karena ada rapat mendadak.”
Kubuang
ponselku. Aku muak.