Sabtu, 10 November 2012

My Story : THE GREEN EYES



THE GREEN EYES


CHAPTER 1


BLOODY FLOOR



          Suara-suara orang semakin bertambah, sepertinya ada lebih dari 5 orang. dan Nenekku menghadapi semua itu sendirian? Terdengar suara tembakan, dilanjutkan dengan suara-suara langkah kaki orang-orang itu. Mereka meninggalkan Nenekku seorang diri di lantai yang dingin dan dipenuhi oleh darahnya.


***


        Tokyo, 22 September



        Aku melangkah menyusuri koridor sekolah baruku ini. Di sebelahku ada seorang guru wanita yang sibuk berbicara ini itu. Aku tak begitu menangkap apa yang sedang dibicarakannya, tapi aku hanya tersenyum dan mengangguk-angguk mendengar penjelasannya. Pikirku, aku tidak boleh dibenci oleh guru karena kesan yang jelek pada saat pertama.

          Kami sampai di depan kelas yang akan kutempati. Kelas 2-1. Letaknya dekat dengan tangga. Lumayan, bisa segera pulang jika bel tiba. Aku dipersilakan masuk oleh guru, dan seperti ‘urutan acara’ untuk murid baru, tentu saja aku akan memperkenalkan diriku ini di depan kelas.

          “Perkenalkan, nama saya Kunisawa Mashiro, pindah sekolah karena jarak sekolah yang lebih dekat dari rumah yang baru saya tempati. Mohon bantuannya”.

Hanya itu. Aku tidak ingin terlalu terbuka soal masalah pribadiku. Dan sungguh, aku berharap segera diperbolehkan duduk karena aku capek berdiri sambil membawa tas yang berat! Syukurlah, Guru itu langsung menyuruhku duduk di kursi kosong untuk meneruskan pelajaran. Aku duduk di pojok. Yah, tak masalah. Malah aku bisa leluasa melihat pemandangan di balik jendela.

          Kubuka buku pelajaranku, ternyata ini pelajaran matematika! Sungguh, aku sedang tidak mood untuk berpikir. Saat itulah teman sebangkuku menyapaku.

          “Hai, salam kenal. Namaku Izumikawa Madoka, panggil saja Madoka. Aku boleh memanggilmu Mashiro?”, sapanya sambil mengulurkan tangan.

Aku menyambut uluran tangannya, “Boleh. Mohon bantuannya, Madoka-chan”, jawabku sambil tersenyum manis. Kami melanjutkan pelajaran.

          Saat jam istirahat tiba. Setelah Sensei Gan pergi, anak-anak perempuan mengerubungi mejaku. Apalagi kalau bukan untuk perkenalan. Mereka juga memberiku pertanyaan-pertanyaan tentangku, sungguh tidak menyenangkan. Tapi, satu pertanyaan yang membuatku jengkel setengah mati adalah mengenai warna bola  mataku. Bola mataku berwarna hijau cerah, dipadukan dengan badanku yang tinggi dan berambut coklat pirang sebahu (lebih sedikit) selalu dicurigai orang. Apa itu asli? Apa warna hijau itu karena lensa kontak? Apa rambutmu dicat?

          Akhirnya, saat yang kutunggu-tunggu tiba. Jam makan siang! Perutku sudah berbunyi dari tadi. Madoka-chan, Mizuki-chan, dan Mari-chan menemaniku ( lebih tepatnya, ngikut ) menuju kantin, karena aku tidak tahu tempatnya.

Sesampainya di kantin, kami langsung menuju meja antrian. Mungkin karena aku murid baru, aku dipersilakan untuk berada di depan mereka. Aku tak menolak karena antriannya sangat panjang. Sebenarnya aku kasihan,tapi, toh mereka yang nawarin, kan?

Setelah mendapat makanan, kami menuju meja yang masih kosong. Di sini, lagi-lagi aku mendapat pertanyaan soal mataku. Tabahlah Mashiro!

“Matamu aneh ya, warnanya hijau. Langka, ya”, tanya Mizuki.

APA?? KAU PINGIN DIHAJAR YA? Batinku. Tapi aku masih bisa tersenyum.

“Iya, kayak bukan orang Jepang, ya?”, sambung Mari-chan. Yang ini masih bisa ditolerir.

“Sudah, nggak usah bahas itu, nanti makanannya keburu dingin”, sela Madoka. Oh, thanks, Madoka!

“Lagian sepertinya Mashiro-chan cocok dengan mata itu. Terkesan seperti golongan elit”, sambung Madoka lagi. Aku tersedak. Bagaimana bisa? Apa itu terpancar dari wajahku?

“Ah, biasa saja. Mata ‘kan hanya sebagai alat penglihat. Lagipula, orang yang elit tidak dilihat dari matanya, kan?”, jawabku setelah minum air. Tapi itu tak berarti karena tak lama kemudian aku tersedak lagi oleh teriakan dari belakangku.

“OOIIII! MAU SAMPAI KAPAN MAKANNYA? YANG MAU MAKAN BUKAN CUMA KAMU AJA!”.

Aku hampir menoleh. Siap berdiri, tetapi urung melihat wajah teman-temanku yang terpaku melihat sosok di belakangku. “Kaicho...”, desah mereka bersamaan. Bukan hanya mereka bertiga, para siswi cewek juga memandang ke arah kami dan ikut-ikutan mendesah juga. Aku heran kenapa mereka bisa sekompak itu.

Akhirnya aku menoleh juga. Di belakang kami ada sesosok lelaki yang tinggi dan seorang wanita yang kelihatannya berteriak tadi. Berbeda dengan murid laki-laki lain, dia berseragam lengkap dan dengan tatanan rambut yang kujamin disiapkan untuk menaklukkan para siswi perempuan di sini. Dan yang membuatku lebih heran lagi dia menatapku dengan wajah yang dingin. Bahkan saking dinginnya, kau bisa meletakkan es krim yang hampir mencair di depannya dan es krim itu akan membeku menjadi es.

“Maaf kaicho, kami keasyikan ngobrol. Kami akan segera menghabiskan makanan kami”, ujar Mizuki yang masih terpesona padanya. Aku semakin heran. Kenapa pria dingin seperti ini bisa populer, ya?

Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah Mizuki dan...... TERSENYUM?????? Bahkan senyumnya itu seakan dia satu-satunya manusia yang tak berdosa di bumi ini.

“Ah, tidak apa-apa, Azama. Makannya pelan-pelan saja. Asal jangan keasyikan ngobrol sampai lupa waktu. Ingat, sebagian besar meja kantin sedang diperbaiki, jadi banyak anak yang harus mengantri baru bisa makan. Paham?” Astaga! Cowok ini pintar ngomong!

“Baik, Kaicho....”, jawab ketiga temanku bersamaan mengantar kepergiannya.

Karena masih terpaku pada cowok itu, aku menyadarkan mereka bertiga. Bagaimana caranya?


BRUAK!


Berhasil! Mereka kaget! Mata mereka hampir keluar dan Mari-chan latah.

“Uwaa...” teriak mereka bersamaan. Bukan hanya itu saja, anak-anak perempuan yang mejanya berdekatan dengan kami juga ikut-ikutan kaget. Detik itu juga, aku ingin tertawa sekeras-kerasnya. Tapi mengingat wibawaku, aku berusaha tertawa kecil.

“Hihihi... Kalian lucu”, ujarku sambil berusaha mengecilkan volume tawaku hingga seimut mungkin. Mereka cemberut.

“Huh, Mashiro! Kenapa, sih?” ujar Mizuki yang sedikit tersipu.

“Iya, kita kan masih mau ‘cuci mata’!” kali ini Mari yang protes.

“Hihihi, maaf, maaf. Habis kalian bengong begitu! Kalau tadi ada lalat masuk gimana? Kalian pasti nggak jadi makan, kan?” ujarku.

Mereka duduk dan masih dengan wajah cemberut. Mizuki melirikku. Aku tahu, jadi kutanya.

“Ada apa?”

“Mashiro-chan...” ujarnya setengah berbisik. “Nggak tertarik sama anak cowok, ya?”


GUBRAK


“Maksudmu?” tanyaku sambil berusaha menenangkan nada bicaraku.

“Maksudku, kulihat sepertinya tadi kau tidak begitu suka melihat wajah Kaicho.” terang Mizuki.

Eh? Tidak tertarik? Apa itu yang tersirat di wajahku?

“Apa iya?” ujarku tak yakin.

“Benar! Lagipula sekilas tadi aku merasa ada petir yang menyambar di antara kalian berdua!”

Aku ngeri. Apa sebagai cewek aku masih normal?





***


New york, 22 September


Aku mulai menyalakan laptop-ku. Oh, sialan! Lelet banget, sih! Yah, apa boleh buat, di laptop ini banyak sekali data-data-ku. Aku tak mungkin menghapusnya karena semua data-data itu penting. Setelah laptop berjalan....? Eh, maksudku nyala, aku mulai mengklik icon-icon yang menuju file-ku, dan mulai mengerjakan laporanku. Membosankan sekali, tapi juga penting. Sebab, nyawa banyak orang dipertaruhkan di file ini. Beruntunglah aku, hari ini hari kerja, jadi tak banyak orang yang berseliweran di kompleks ini. Biasanya, ditengah pekerjaanku, banyak orang yang menyapaku kalau lewat di depan rumahku. Agar tidak dicap sebagai warga yang tidak sopan, aku terpaksa membalas sapaan mereka dan menghentikan pekerjaaanku sementara untuk sekedar berbasa-basi dengan mereka. Boleh saja jika mereka membicarakan tentang topik yang berbeda, tetapi yang mereka katakan selalu sama! Entah itu masalah cuaca, apa yang sedang aku lakukan, dan menanyakan apa rencanaku untuk hari ini. Bahkan, untuk para ibu-ibu, aku harus mempersilakan mereka masuk ke rumah dan menjamu mereka! Dan mereka selalu menanyakan hal yang sama : kapan aku menikah? Bukankah itu masalah pribadi? Untuk apa mereka ikut campur urusan percintaanku?

Kembali pada laporanku, sudah satu jam aku duduk di depan laptopku. Tidak ada yang mengganggu. Suasana sepi dan tenang. Aku bisa mengerjakan laporanku dengan tenang. Ahh.. Akhirnya selesai. Aku menggeser arah mouse ke icon ‘close’. Belum sempat aku menyentuh tombol itu, teleponku berdering yang membuatku kaget setengah mati, padahal aku sudah terlena dengan kehidupan tenang di sini. Aku mengangkat ponselku. Oh, dari Miss Annie, atasanku. Aku menekan tombol jawab dan terdengar teriakan di sana.

“ AKIRA! MAU SAMPAI KAPAN KAU MAU MENGABAIKANKU? AKU SUDAH MENGIRIMIMU BANYAK E-MAIL, LHO! ”, aku sudah akan mematikan ponselku ketika dia mengatakan sesuatu. “Mr. Carl sedang menuju ke rumahmu! Dia mau mengambil obat hasil uji cobamu kemarin dulu!”. Aku benar-benar mematikan ponselku kali ini. Aku melihat ke layar ponselku dan melihat ada 24 e-mail. Semua dari Bu Annie. Isinya semua sama, tentang kedatangan Mr. Carl. Mr. Carl adalah bosku. Aku segera menutup laptopku dan segera turun dari lantai 2. Secepat kilat kubersihkan meja tamu yang masih bersih, menyiapkan hidangan, mandi, dan berpakaian rapi. Setelah semua siap, kulihat ponselku. ada 5 missed call dari Bu Annie. Segera kutelepon balik Bu Annie. Lagi-lagi ada teriakan dari sana. Aku sudah menjauhkan telingaku dari ponselku sebelum dia menjawabnya. Seperti yang kuduga, teriakan itu ditujukan hanya untukku.

“AAAKIIIIIIRRRAAAA....! Harus berapa kali aku meneleponmu? Jangan memutuskan telepon ketika orang lag...”

“Ada apa?”, tanyaku menyela. Aku sudah bosan mendengar omelannya, “Oya. Jam berapa Mr. Carl datang? Sudah kutunggu dari tadikok belum datang?”. Terdengar helaan nafas dari seberang sana.

“Makanya, kalau orang belum selesai ngomong, jangan sembarangan diputusin! Mr. Carl tadi telepon, dia tidak jadi datang karena ada rapat mendadak.”

Kubuang ponselku. Aku muak.
 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar