Kasih Yang Tak Sampai
Sudah bertahun-tahun kuamati, kau sama sekali tak berubah. Caramu bicara, gayamu berjalan, dan semua yang kaulakukan tidak berubah. Begitu pula sikapmu padaku.
Kau masih sama seperti dulu, tak pernah kau anggap aku ada. Kau pasti tak tahu, seberapa besar perhatianku padamu. Tak pernah kulupa sedikitpun tentang dirimu. Jika kulihat kau tersenyum, jantungku berdetak tak karuan. Meski ku tahu, senyum itu bukan untukku. Jika tidak sengaja kita saling bertatapan, meski hanya sepersekian detik, aku bisa melonjak-lonjak di dalam hatiku. Tapi sampai sekarangpun masih begitu. tak berani kusampaikan perasaanku yang sesungguhnya padamu. Tapi perasaan ini tak dapat kupungkiri lagi.
Tak ada yang bisa kuajak curhat, kecuali seorang teman dekatku, Mia. Kuucapkan semua yang kulihat padanya, uneg-uneg ku yang sudah lama ku simpan. Dan dia bisa jadi pendengar yang baik. Saat ku tahu dia juga sedang jatuh cinta pada anak kelas sebelah, kucoba bantu dia, sebagai rasa terima kasihku padanya. Walaupun dia tahu, bahwa orang yang disukainya sedang berpacaran dengan salah satu gadis playgirl di sekolah, dia tidak pernah membuang perasaannya itu.
Suatu saat, aku mendengar gosip sekolah. katanya gadis playgirl itu sudah punya pacar baru, kontan saja aku segera memberitahukan informasi ini. tapi, yang kudengar dari Mia hanyalah keluhan, " Dia putus bukan hanya karena sudah tidak suka lagi, padanya, tapi dia suka gadis lain."
Mendengar jawaban itu, kontan saja aku bertanya," Siapa dia? ". "Dia Rena dari kelas sebelah." Aku terperangah mendengar ucapan sahabatku. Aku membayangkan, betapa sakitnya hatiku jika orang yang kusukai ternyata suka pada orang lain. Aku jadi takut membayangkannya.
***
Hari ini tes semester 1 berakhir. Seperti biasanya, sekolahku mengadakan classmeeting. Berbagai lomba diadakan untuk memeriahkannya. Saat itu, lomba yang kuikuti sudah selesai, aku bersama beberapa orang teman, duduk di teras kelas. Kelasnya, yang bersebelahan denganku, kuamati terus, berharap orang itu keluar. Dan setelah beberapa saat, akhirnya orang itu keluar juga dari kelasnya. Dan sambil memegang ponsel di tangannya, dia berjalan ke arah kami. Teman-teman ku mulai iseng menanyainya tentang seseorang yang bernama Sinta. Aku keget, tapi kusembunyikan di dalam hatiku, agar dia tidak melihat perubahan wajahku. Iseng-iseng kutanyai dia,"Wah! Galih sudah punya pacar!", kataku sambil tersenyum. Padahal dalam hati, aku ingin menangis.
"Pacar? Siapa yang punya pacar?", pertanyaannya itu melegakanku.
"Itu, tadi, yang kau sebut Sinta itu siapa?"
"Oh, Sinta! Sinta yang ini?", katanya sambil menunjukkan ponselnya di bagian SMS. Tak kulihat jelas, karena dia mengambilnya lagi begitu cepat, tapi cukup membuat hatiku hacur. Ketika dia kembali ke kelasnya, aku berteriak," WAH! GALIH SUDAH PUNYA PACAR!", tapi tak digubrisnya. Dalam hatiku, aku ingin menangis sekeras-kerasnya. Aku mungkin memang jelek, tak sepantasnya aku jadi pacarnya. Aku tahu itu, tapi perasaan ini tak bisa hilang juga. Tapi kuharap, suatu saat nanti dia akan menyadari perasaanku padanya ini. Perasaan yang tidak akan pernah hilang untuk selamanya.
Ciehhhhh CURCOL Bukkkk~ *digampar*
BalasHapusBUKAN CURCOL! 0///0
BalasHapus